Tuesday, November 1, 2011

Kasih Sayang Seorang Ibu

Kasih Sayang Seorang Ibu

Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu. Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.

Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya. Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.

Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting. Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.


Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA. Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.

Saat kau berumur 19 tahun, dia membayari biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama. Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman – temanmu.

Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, “Dari mana saja seharian ini?” Sebagai balasannya, kau jawab, “Ah Ibu Cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!”

Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan. Sebagai balasannya, kau katakan, “Aku tidak ingin seperti Ibu.”

Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi. Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.

Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu. Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.

Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan. Sebagai balasannya, kau mengeluh “Bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?”

Saat kau berumur 25 tahun, dia membantumu membiayai pernikahanmu. Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 KM.

Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya, “Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!”

Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat. Sebagai balasannya, kau jawab, “Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu.”

Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit – sakitan sehingga memerlukan perawatanmu. Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang di rumah anak – anaknya.

Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba – tiba kau teringat semua yang belum pernah engkau lakukan, karena mereka datang menghantam hatimu bagaikan palu godam.

Jika beliau masih ada, jangan lupa memberikan kasih sayangmu lebih dari yang pernah kau berikan selama ini. Dan jika beliau sudah tiada, ingatlah kasih sayang dan cintanya yang tulus tanpa syarat kepadamu.

Sumber: Kumpulan Ebook Motivasi dan Pengembangan Diri
Read More......

Saturday, October 29, 2011

Ikan Kecil dan Air

Ikan Kecil dan Air

Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang – bincang di tepi sungai. Kata ayah kepada anaknya, “Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati.”


Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengarkan percakapan itu dari bawah permukaan air, ia mendadak menjadi gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, “Hai, tahukah kamu dimana air? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati.”

Ternyata semua ikan tidak mengetahui dimana air itu. Si ikan kecil semakin gelisah, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal serupa, “Dimanakah air?”

Jawab ikan sepuh, “Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita akan mati.” Apa arti cerita tersebut bagi kita. Manusia kadang – kadang mengalami situasi seperti si ikankecil, mencari kesana kemair tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai – sampai dia tidak menyadarinya.

Sumber: Kumpulan Ebook Motivasi dan Pengembangan Diri
Read More......

Friday, October 28, 2011

Temukan Ketenangan

Temukan Ketenangan

Coba anda lempar sebutir kerikil ke dalam telaga yang tenang, berpusat dari tempat jatuhnya kerikil itu akan tercipta sebuah riak gelombang yang mengalun ke penjuru telaga. Kini, bisakah anda menghentikan laju riak gelombang itu?

Mungkin anda mencoba dengan memasukkan telapak tangan anda ke dalam air. Atau menghadangnya dengan kedua belah kaki anda. Namun yang terjadi adalah semakin banyak anda melakukan sesuatu pada permukaan telaga, semakin banyak riak gelombang baru bermunculan. Satu – satunya cara menghentikan laju riak gelombang itu hanyalah dengan membiarkannya berhenti sendiri.

Demikian pula dengan ketenangan dan pikiran. Semakin keras anda melakukan sesuatu pada pikiran anda. Semakin sulit anda mencapai ketenangan itu. Amati saja. Jangan tolak atau menghentikan riak pikiran anda. Biarkan pikiran berangsur – angsur tenang. Ketenangan diri dimulai dari ketenangan pikiran, sedangkan ketenangan pikiran bermula dari ketenangan bernafas. Dalam nafas yang tenang temukan jiwa yang tenang.

Sumber: Kumpulan Ebook Motivasi dan Pengembangan Diri
Read More......

Monday, October 24, 2011

Janganlah Memaksa

Janganlah Memaksa

Seorang nenek sedang berjalan – jalan sambil menggandeng cucunya di jalan pinggiran pedesaan. Meraka menemukan seekor kura – kura. Anak itu mengambilnya dan mengamat – amatinya. Kura – kura itu segera menarik kakinya dan kepalanya masuk di bawah tempurungnya. Si anak mencoba membukanya secara paksa.

“Cara demikian tidak pernah akan berhasil nak!” kata nenek. “Saya akan mencoba mengajarimu.”

Mereka pulang. Sang nenek meletakkan kura – kura di dekat perapian. Beberapa menit kemudian, kura – kura itu mengeluarkan kakinya dan kepalanya sedikit demi sedikit, ia mulai merangkak bergerak mendekati si anak.

“Janganlah mencoba memaksa melakukan segala sesuatu, nak!” nasihat nenek, “Berilah kehangatan dan keramahan, ia akan menanggapinya.”

Sumber: Kumpulan Ebook Motivasi dan Pengembangan Diri
Read More......

Friday, September 16, 2011

30 Hari Untuk Selamanya

Yulian dan Dian adalah teman sejak kecil, mereka terbiasa bersama sepanjang waktu. Dan kini mereka telah sama – sama beranjak dewasa. Sewajarnya juga mereka juga diliputi oleh perasaan saling suka. Terutama Yulian yang sudah sejak lama menyukai Dian. Suatu hari Yulian bermaksud untuk menyatakan cintanya kepada Dian, akan tetapi karena pada dasarnya Yulian adalah orang yang pemalu, dia pun juga malu – malu untuk menyatakan cintanya. Diawali dengan SMS basa – basi, menayakan kabar, menanyakan sedang apa, membicarakan hal kesana kemari. Hingga saat Yulian telah kehabisan bahan pembicaraan, dia pun mulai memperjelas maksudnya, menanyakan perihal percintaan. Pada akhirnya dia pun menanyakan pada Dian, “Apakah suatu saat kau mau jadi pacarku?” Dian pun membalas, “Bagaimana jika sekarang saja, tidak usah nanti – nanti, nanti aku langsung kasih jawaban.” Yulian pun berkeringat dingin, ia malah membatalkan niatnya dan bilang bahwa itu hanya bercanda. Dian juga hanya bilang “Oh, gitu ya, ya udah.” Hari demi hari berlalu, saat ini mereka telah terpisah, tidak lagi bersama. Dan semakin lama hubungan mereka pun semakin renggang. Suatu hari Yulian pun menghubungi Dian kembali, perlahan hubungan mereka pun mulai dekat kembali, walaupun hanya terjalin lewat SMS saja. Layaknya hubungan setiap orang, pada suatu saat pasti akan datang kebosanan jika terlalu sering berhubungan. Yulian yang pada dasarnya pendiam, rendah diri dan selalu merasa bahwa semua adalah miliknya, layaknya semua temannya adalah miliknya dan tidak ada orang lain yang boleh memilikinya, selalu merasa tidak terima dan merasa sedih jika Dian membicarakan hal tentang orang lain, terlebih saat Dian membicarakan tentang pria lain yang ia kagumi, hati Yulian merasa tersayat – sayat. Dan pada akhirnya Yulian pun memutuskan hubungan dengan Dian dengan kata –kata yang begitu menyakitkan sebagai pelampiasan karena ia sudah muak mendengar kelebihan orang lain yang selalu Dian bicarakan di depannya sedangkan ia tidak memliki kelebihan itu, dan dia pun yakin Dian pun tidak akan pernah menerimanya kembali setelah semua kata – kata menyakitkan yang telah ia lontarkan. Dan semenjak itu pun penyesalan terbesarnya bermula.

Hari pertama setelah peristiwa itu, Yulian menjali hidup barunya yang penuh dengan kebencian, tak tahu apa yang sebenarnya dia benci. Satu minggu berlalu, ia masih memikirkan betapa bodohnya semua hal tentang Dian, dan semakin membencinya setiap hari. Hari kedelapan, ia mulai memikirkan kembali tentang hal – hal indah yang pernah ia lalui bersama Dian, tawa di masa lalu, masa – masa indah saat bersama. Yulian pun mulai memikirkan kembali tentang sikap yang telah diambilnya. Minggu kedua pun berlalu dengan penuh penyesalan dari Yulian, terlebih saat saat mendengar bahwa saat itu Dian terkapar dirumah sakit. Hari kelimabelas, Yulian bermaksud menjenguk Dian serta berniat untuk meminta maaf, akan tetapi hari itu ia sibuk dan memutuskan untuk menjenguknya esok hari. Hari keenambelas, Yulian bersiap menjenguk Dian meskipun diikuti dengan perasaan ragu – ragu serta malu, ia pun mengurungkan niatnya kembali. Hari ketujuhbelas, Yulian mendengar bahwa Dian sudah dijenguk oleh teman – temannya yang baru, dan sudah keadaannya sudah mulai membaik, niatnya menemui Dian kembali sirna sepenuhnya dikarenakan ia berpikir bahwa hal itu sudah tidak ada gunanya lagi. Dian sudah memiliki teman – teman baru, dia tidak butuh teman lama yang sudah pernah menyakitinya. Minggu ketiga pun berlalu bagi Yulian dengan penuh depresi. Merasa tidak dibutuhkan, merasa dikucilkan merasa begitu bodoh, merasa marah, merasa sedih, semua perasaan bercampur aduk. Yulian yang memang hanya memiliki Dian sebagai teman terdekatnya merasa begitu kehilangan temannya itu. Hari keduapuluh lima, Yulian mendengar kabar bahwa keadaan Dian saat ini kembali memburuk, ia pun ia pun sedih kembali, merasa bingung dengan dirinya sendiri, dalam hati ia ingin bertemu, tapi pada kenyataannya dia tidak dapa mewujudkannya.

Hari keduapuluhtujuh, kabar bahwa Dian dalam keadaan sekarat terdengar di telinga Yulian, Dokter yang merawat Dian juga mengatakan bahwa Dian tidak akan bertahan lebih lama lagi, paling lama ia akan mampu bertahan 4 hari saja. Hati Yulian kembali terpanggil, masa lalu yang indah, saat – saat tak terlupakan di masa lalu. Ia kembali merindukannya, tak ingin hal itu hanya menjadi kenangan. Dua hari sebelum tanggal yang telah ditentukan, Yulian di datangi oleh salah seorang teman terdekat Dian yang baru. Ia menanyakan kenapa Yulian tidak pernah menjenguk Dian sekalipun, bahkan sampai saat ini, sampai saat – saat terakhir saat – saat terakhir ia hidup. Yulian pun menanyakan, apakah kehadirannya masih penting dalam kehidupan Dian, toh dia juga sudah memiliki banyak teman baru. Teman Dian itu pun berteriak pada Yulian, “Dasar bodoh, apa kau tidak sadar, selama ini kau lah orang yang paling penting dalam hidupnya, di selalu bercerita bahwa kau lah satu – satunya orang yang membuatnya mampu bertahan sampai saat ini, dia terus bercerita tentangmu sepanjang waktu, masa – masa indah yang dulu selalu ada saat bersamamu, dia pun langsung menangis saat menceritakan saat kau meninggalkannya, dan itulah yang membuat penyakitnya semakin parah, selama ini ia mampu bertahan karena suasana nyaman saat bersamamu, seharusnya dia tidak akan seperti ini jika kau tidak melakukan hal bodoh itu, sekarang semua terserah padamu, kau yang membuatnya sekarat dan hanya kau yang bisa menolongnya, semua pilihan ada padamu.” Teman Dian itu pun berlalu dari hadapan Yulian, dan Yulian pun kembali memikirkan apa yang telah dikatakan teman Dian tadi pada malam harinya, sampai – sampai ia tidak bisa memejamkan matanya, jika semua hal ia dengar tadi adalah suatu kebenaran, maka ia telah bersikap sangat kejam. Pagi pun menjelang, pada akhirnya dengan tekat bulat ia pergi ke rumah sakit dimana Dian dirawat, saat masuk ke dalam ruangan tempat Dian dirawat ia pun dihadang oleh orang – orang terdekat Dian yang berada dalam ruangan itu, mereka semua mencacinya serta menyalahkannya atas semua yang terjadi pada Dian, berani – beraninya dia datang untuk menemui Dian, kedatangannya hanya akan membuat keadaan Dian lebih buruk, lebih baik ia pergi, itulah yang terlontar dari orang – orang terdekat Dian. Yulian pun berbalik menjawab “Baik, saya memang yang salah, saya lah penyebab semua hal yang buruk ini, bukankah ini semua tanggung jawab saja, bukankah saya harus mempertanggungjawabkannya? Seseorang berkata pada saya, bahwa saya lah yang menyebabkan semua ini dan hanya saya yang mampu memperbaikinya, jadi tolong berikan saya satu kesempatan saja.” Mendengar keributan itu perhatian Dian pun tertuju pada mereka, dia pun berkata dengan lirih “Biarkan aku bertemu dengannya.” Yulian pun berbicara pada Dian, “Apakah benar selama ini kau sakit? Kenapa kau tidak memberitahuku, kenapa kau menanggung semua beban ini sendiri?” Dian pun menjawab, “Saat bersamamu aku tidak pernah sakit, semuanya baik, aku tidak pernah mengatakannya padamu karena aku tidak mau menambah pikiranmu dan membuatmu semakin sedih, beban hidupmu sendiri sudah terlalu banyak, selalu menyembunyikan semua kesedihan dibalik senyuman palsu, yah itulah dirimu, tapi hal itulah yang membuatku kuat, kenapa kau mampu menahan semua pederitaan yang ada sedangkan aku tidak” Yulian pun berkata sambil terisak – isak, “Tapi apakah kau masih menganggapku teman setelah semua yang kulakukan padamu, masihkah aku menjadi penyemangat dalam hidupmu, masihkah . . . .” Dian menaruh jari telunjuknya dibibir Yulian mengisyaratkannya untuk diam, lalu ia berkata dengan sisa – sisa suaranya yang masih ada, “Jangan terus menyalahkan dirimu, aku tahu semua yang kau lakukan itu karena kau sudah tidak mampu lagi menanggung semua beban hidupmu, sehingga kau mencari pelampiasan atas semua itu, dan kau meninggalkanku pasti karena kau tidak mau menyakiti lagi, aku yang memang tidak bisa jauh darimu, aku yang telah salah mengira bahwa aku mampu bertahan meskipun tanpa kau disisiku, tapi ternyata aku salah, tanpamu ternyata begitu berat, aku tidak mampu setegar dirimu, oleh karenanya tetaplah tegar untukku, dokter mungkin berkata bahwa aku masih mempunyai satu hari lagi di dunia ini, aku ingin menghabiskannya bersamamu tapi kelihatannya hal itu akan sulit, oh iya ingatkah saat kau memintaku jadi kekasihmu dulu, jika kau ingin tahu jawabannya, jawabannya adalah aku pasti mau.” Dian pun berhenti berkata dan tersenyum dan memejamkan matanya. Yulian pun menagis dan berkata, “Kalau begitu teruslah hidup dan habiskan waktumu sebagai kekasihku, kau pasti mau kan?” Dian pun tidak bersuara lagi, kini ia telah tiada, kanker paru – paru telah merenggut nyawanya, dan ia pun telah meninggal dengan tenang didampingi dengan orang yang begitu berarti dalam hidupnya. Tangis pun pecah di ruangan itu, Yulian pun juga hanya bisa menangis kepergian Dian serta berteriak keras menyesali semua pemikiran bodoh yang telah membuatnya kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya.

-=The End=-
Read More......